Definisi Optika

Optika adalah cabang fisika yang menggambarkan perilaku dan sifat cahaya dan interaksi cahaya dengan materi. Optika menerangkan dan diwarnai oleh gejala optis. Kata optik berasal dari bahasa Latin ὀπτική, yang berarti tampilan.

Bidang optika biasanya menggambarkan sifat cahaya tampak, inframerah dan ultraviolet; tetapi karena cahaya adalah gelombang elektromagnetik, gejala yang sama juga terjadi di sinar-X, gelombang mikro, gelombang radio, dan bentuk lain dari radiasi elektromagnetik dan juga gejala serupa seperti pada sorotan partikel muatan (charged beam). Optik secara umum dapat dianggap sebagai bagian dari keelektromagnetan. Beberapa gejala optis bergantung pada sifat kuantum cahaya yang terkait dengan beberapa bidang optika hingga mekanika kuantum. Dalam prakteknya, kebanyakan dari gejala optis dapat dihitung dengan menggunakan sifat elektromagnetik dari cahaya, seperti yang dijelaskan oleh persamaan Maxwell. Baca lebih lanjut

Categories: Optika | Tinggalkan komentar

Definisi Cermin

Cermin adalah permukaan memantul yang cukup licin untuk membentuk imej. Cermin dikenali ramai sebagai sejenis benda yang boleh memantulkan cahaya ataupun bayang-bayang.

Cermin awal terdiri daripada kepingan atau helaian logam digilap, biasanya logam perak atau tembaga apabila imej yang dipantuklan kembali adalah untuk dilihat (seperti perapian diri) tetapi juga dari logam lain apabila hanya penumpuan cahaya terbias yang diperlukan.

Teleskop dan peralatan jitu yang lain menggunakan cermin sepuh hadapan front silvered, di mana permukaan memantul diletak dipermukaan hadapan kaca, yang memberikan kualiti imej lebih baik. Sesetengah dari mereka menggunakan perak, tetapi kebanyakannya menggunakan aluminum, yang lebih memantul pada gelombang pendek berbanding perak. Baca lebih lanjut

Categories: Optika | Tinggalkan komentar

Cahaya

Ada pendapat yang mengatakan, terdapat perbedaan antara cahaya dan sinar. Cahaya berkaitan dengan gejala melihat (cahaya tampak), sedangkan istilah sinar meliputi cahaya tampak dan cahaya tak tampak seperti sinar X dan sinar gamma.

Dalam uraian ini, keduanya dapat digunakan untuk menyatakan maksud yang sama, yaitu meliputi cahaya tampak dan cahaya tak tampak.

Apakah cahaya itu?

Cahaya menurut Newton (1642 – 1727) terdiri dari partikel-partikel ringan berukuran sangat kecil yang dipancarkan oleh sumbernya ke segala arah dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sementara menurut Huygens ( 1629 – 1695), cahaya adalah gelombang seperti halnya bunyi. Perbedaan antara keduanya hanya pada frekuensi dan panjang gelombangnya saja.

Dua pendapat di atas sepertinya saling bertentangan. Sebab tak mungkin cahaya bersifat partikel sekaligus sebagai partikel. Pasti salah satunya benar atau kedua-duanya salah, yang pasti masing-masing pendapat di atas memiliki kelebihan dan kekurangan. Baca lebih lanjut

Categories: Optika | Tinggalkan komentar

Persamaan Lensa Tipis

Keterangan :
s = jarak benda
s’ = jarak bayangan
n1 = indeks bias medium sekeliling lensa
n2 = indeks bias lensa
R1 = jari-jari kelengkungan permukaan pertama lensa
R2 = jari-jari kelengkungan permukaan kedua lensa
jari2 (R)(+) untuk lensa cembung (konkaf) dan (-) untuk lensa cekung (konveks)
Jarak Fokus Lensa-lensa
Perbesaran Bayangan
Kekuatan Lensa (P)

Lensa Gabungan
Harus diingat bahwa dalam menggunakan persamaan ini jenis lensa perlu diperhatikan. Untuk lensa positif (lensa cembung), jarak fokus (f) bertanda plus, sedangkan untuk lensa negatif (lensa cekung), jarak fokus bertanda minus.
Categories: Optika | Tinggalkan komentar

Melukis Bayangan Pada Lensa Cekung

Berbeda dengan lensa cembung yang mempunyai sifat bayangan yang berbede2 untuk setiap ruangnya…lensa cekung hanya mempuyai satu sifat bayangan seperti yang terlukiskan di bawah ini :
sifat bayangan yang terbentuk dari penggambaran lensa cembung (+) dan cekung (-) di atas sebagai berikut : Baca lebih lanjut
Categories: Optika | Tinggalkan komentar

Melukis Bayangan Pada Lensa Cembung

Pembentukan bayangan pada lensa positif untuk benda yang diletakkan antara F dan 2F (Ruang II).
Pembentukan bayangan oleh lensa positif untuk benda yang diletakkan pada jarak lebih besar dari jarak antara pusat optik ke titik 2F (Ruang III). Baca lebih lanjut
Categories: Optika | Tinggalkan komentar

Dalil Esbach

Untuk lensa nomor ruang untuk benda dan nomor ruang untuk bayangan dibedakan. Nomor ruang untuk benda menggunakan angka Romawi (I, II, III, dan IV), sedangkan untuk ruang bayangan menggunakan angka Arab (1, 2, 3 dan 4) seperti pada gambar berikut ini:
Categories: Optika | Tinggalkan komentar

Berkas Sinar Istimewa Lensa

pada lensa cembung (positif)dikenal tiga berkas sinar istimewa. tiga sinar istimewa tersebut adalah:
  • Sinar datang sejajar sumbu utama akan dibiaskan melalui fokus utama.
  • Sinar datang melalui fokus utama dibiaskan sejajar sumbu utama.
  • Sinar datang melalui pusat optik akan diteruskan tanpa dibiaskan. Baca lebih lanjut
Categories: Optika | Tinggalkan komentar

Persamaan Rumus Cermin Lengkung

Persamaan-persamaan yang berlaku pada cermin lengkung (cekung dan cembung):
1. Rumus pembentukan jarak fokus cermin : f = ½ R atau R = 2 f
2. Rumus pembentukan bayangan : 1/f = 1/So + 1/Si
3. Rumus perbesaran bayangan : M = -(Si/So) = hi/ho

Keterangan:
So = jarak benda ;
Si = jarak bayangan ;
f = jarak fokus ;
hi = tinggi bayangan ;
ho = tinggi benda ;
R = jari-jari kelengkungan cermin ;
M = Perbesaran linier bayangan

Categories: Optika | Tinggalkan komentar

Pemantulan Total

Saat cahaya merambat dari medium optik lebih rapat ke medium optik kurang rapat dengan sudut datang tertentu, cahaya akan dibiaskan menjauhi garis normal. Bila sudut datang terus diperbesar, maka suatu saat sinar bias akan sejajar dengan bidang yang berarti besar sudut biasnya 90°.
Sekali lagi apabila sudut datang diperbesar, maka tidak ada lagi cahaya yang dibiaskan, sebab seluruhnya akan dipantulkan. Sudut datang pada saat sudut biasnya mencapai 90° ini disebut sudut kritis (saat sin r = sin 90 = 1).
Persamaan sudut kritis :

Dua syrata terjadinya pemantulan sempurna adalah sebagai berikut.
– sinar harus datang dari medium lebih rapat ke mudium kurang rapat
– sudut datang lebih besar daripada sudut kritis

Categories: Optika | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: